Sabtu, 19 Maret 2011

Langkah Konkrit Diknas dalam menguapayakan Kurikulum berbasis Ekonomi Syariah


Belakangan, perguruan tinggi yang menawarkan konsentrasi ekonomi syariah semakin banyak. Apakah perkembangan kuantitatif ini berbanding lurus dengan kemajuan kualitatif serta sudah didukung dengan kurikulum berbasis syariah? Berikut ini wawancara Ibadah dengan sekjen IAEI Bapak Agustianto yang akan bercerita tentang hasil audiensi IAEI dengan Wamendiknas Dr. Fasli Djalal tentang kurikulum berbasis ekonomi syariah.


IAEI telah melakukan audiensi dengan Wamendiknas tentang pengajuan kurikulum berbasis syariah. Bisa dijelaskan poin-poin yang dihasilkan?
Intinya, Menteri Diknas mendukung pembukaan program studi ekonomi Islam di berbagai perguruan tinggi umum. Bentuk dukungannya, antara lain, beliau sepakat bekerja sama dengan ahli-ahli ekonomi syariah dalam menyeleksi proposal-proposal yang diajukan oleh prodi. Selanjutnya, Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) akan menjalin komunikasi dengan seluruh perguruan tinggi yang ingin membuka program studi ekonomi syariah. Selain itu, untuk infrastruktur pembukaan prodinya, kementrian diknas juga akan memfasilitasi pertumbuhan nasional seluruh perguruan tinggi di Indonesia yang diwakili oleh fakultas ekonomi dan program studi ekonomi syariah.

Kapan pelaksanaanya?
Tahun ini. Tujuannya adalah untuk menyatukan visi, persepsi dan perumusan kurikulum yang terstandar secara nasional sehingga tidak terjadi perbedaan yang mencolok antara satu perguruan tinggi dengan perguruan tinggi yang lain. Kemudian, diknas memberikan bantuan berupa beasiswa bagi dosen-dosen ekonomi syariah. Terkait formasi penerimaan dosen di perguruan tinggi umum akan diterima atau diutamakan dosen ekonomi syariah untuk memenuhi kebutuhan dosen-dosen di program studi yang akan dibuka.

Mengenai kurikulum berbasis ekonomi syariah sendiri dinamikanya seperti apa?
Kurikulum berbasis syariah sebenarnya sudah dirumuskan oleh IAEI dalam berbagai forum, simposium dan juga semiloka. Lebih jauh lagi, kurikulum itu sudah kita serahkan pada bulan Mei 2010 kemarin kepada Menteri Pendidikan terdahulu, Bapak Bambang. Dan belum lama ini kita ulang lagi dengan menyampaikannya kepada Bapak Fasri Jalal. Jadi, intinya, kementrian diknas atas nama pak Fasri Jalal sepakat mendukung pendidikan ekonomi syariah melalui perguruan tinggi umum.

Sesudah format kurikulum ekonomi syariah itu diserahkan kepada kemendiknas, lalu follow up ke depannya seperti apa?
Kemendiknas akan memfasilitasi seluruh program studi ekonomi syariah di seluruh Indonesia untuk membedah dan mengetahui kurikulum itu. Jadi, supaya ada standar atau acuan dalam kurikulum program studi ekonomi syariah yang akan diumumkan di masing-masing perguruan tinggi.

Kira-kira peserta dan para pihak yang akan terlibat siapa saja?
Peserta utamanya adalah para pelaksana program studi ekonomi syariah dan fakultas-fakultas ekonomi yang berminat untuk membuka program studi ekonomi syariah se-Indonesia, ditambah praktisi-praktisi syariah seperti bankir syariah dan pihak-pihak lain yang membutuhkan SDM ekonomi syariah, juga mereka yang berkepentingan mengetahui rancangan kurikulum seperti apa yang harus dirumuskan. Jadi, para pihak yang terlibat tentu saja ada IAEI; lalu ada diknas selaku pemerintah; ada pula praktisi bankir-bankir; dan ada juga akademisi untuk lembaga perguruan tinggi yang akan membuka program studi ekonomi syariah.

Dalam acara audiensi dengan wamendiknas, pihak siapa saja yang tergabung?
Ada sekjen IAEI; ada juga representasi dari Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), Dr. Khalil; dan Dewan Pakar IAEI juga, Prof Dr Veitzal Rifai. Dari pemerintah, ada pihak yang mewakili Bank Indonesia, yang notabene sebagai penyelenggara TOT, Dr. Romeo Rizal. Kemudian, ada juga representasi dari IKAPI dan LPPI (Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia) yang bergerak di bidang SDM syariah, yaitu Bapak Kharisman. Yang penting, kita doakan saja semoga kurikulum berbasis syariah ini segera tercipta agar proses pembelajaran ekonomi syariah bisa berlangsung dengan baik. Amin.*Iis Aisah

Perjalanan mencari ilmu

Tuhan menciptakan manusia untuk menjadi khaifah fil ardhi, menjadi pemimpin minimal untuk diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar. Pemimpin tidak mengenal jenis kelamin, pemimpin adalah seseorang yang mampu dalam mengatasi masalah dan cakap dalam keilmuan, pengertian pemimpin di ruang publik. Namun sebagai seorang perempuan pemimpin kita adalah suami kita yang akan menjadi imam dunia dan akherat.

Sehingga, untuk menjadi pemimpin dibutuhkan bekal ilmu yang tinggi agar bisa memberikan dan mengarahkan sesuatu yang salah menjadi benar dalam pandangan umum bukan pandangan pribadi. Ilmu yang tinggi tidak harus didapatkan dari bangku sekolah atau kuliah, namun sangat menghargai bagi siapa saja yang mau ikhlas untuk belajar, karena belajar itu bukan suatu lifestyle melainkan kebutuhan akan jiwa yang penuh dengan keinginan tahuan yang besar terhadap ciptaan Allah. Karena di Indonesia adalah negara yang berdasarkan sistem maka mau gak mau sebagai anak bangsa harus mengikuti untuk hidup yang lebih baik dengan belajar.
Proses belajar merupakan hal penting yang menentukan masa depan seseorang, karena melalui proses belajar maka mental kita diuji akan konsistensi dan keteguhan dalam pencarian belajar mencarii ridho Ilahi. Ada yang mudah belajar bagi orang yang bertipikal cerdas, namun ada juga belajar yang harus berulang-ulang agar memahami dari materi yang dibaca. Semuanya baik tergantung dari tipikal dan karakter dari tiap-tiap manusia.
Untuk menjadi paham dan cerdas ada beberapa hal yang harus diperhatikan.
1. Mengucakan bismillah dan berdoa
2. Mensucikan jiwa dari rasa dengki, dan dendam karena Ilmu hadir dikala hati sedang suci
3. Berdoa dan minta ridho dari orangtua kita, karena ridho merekalah alan hidup kita menjadi lebih baik
4. Melakukan amal-amalan dari guru atau kyai untuk mempermudah kita dalam menerima ilmu
5. Jauhkan diri dari segala macam bentuk kejahatan dan menyakiti orang lain
Faktor-faktor di atas adalah salah satu cara agar kita mudah dalam belaar dan menerima ilmu, dan setiap orang mempunyai cara yang berbeda sesuai dengan keyakinan dan lingkungan masing-masing.
Pertama bagiku belajar agak sulit, sulit untuk mau belajar berbeda dengan anak--anak yang lain yang rajin belajar, dan aku termasuk orang yang malas untuk belajar. Semangat sekolah ada namun sulit untuk belajar dirumah, akhirnya bisa belajar meski dengan belajar kelompok, bagi saya itu adalah suatu kemajuan yang pesat, karena jarang belajar, maka nilai rapotku tidaklah mengherankan jika dapat nilai tidak bagus.
Hari-berganti hari, tahun berganti tahun, akhirnya kebiasaan malas itu sedikit demi sedkit menghilang ketika sekolah ditingkat Sekolah Menengah Pertama atau Madrsah Tsanawiyah, mulai ada pencerahan pada diri dan otak ku ini, mulai rajin belajar dikarenakan mungkin jauh dari orang tua dan melihat tean datang dari berbagai daerah ke cirebon datang untuk mencari ilmu, maka terbukalah pikiran dan jiwa ini untuk rajin belajar.
Alhamdulillah karena perubahan yang lebih menjadi rajin belajar sehingga di tingkat SMP nilai ku semakin hari semakin baik bahkan sampai juara kelas dan dapat nilai ujian yang terbaik.
Masuk SMU belajarku tambah meningkat meski gak pernah dapat rangking namun rata-rata nilai tujuh sudah bersyukur banget,,, karena persaingan di SMU I N Cirebon sangat ketat,,,
dan memasuki dunia perkuliahan referensi buku bacaanku bertambah, namun belum merasakan nikmatnya belajar kuliah di IAIN Syech Nur Jati, baru merasakan nikmatnya berorganisasi di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Memasuki S2 Universitas Indonesia, belajarku masih standar, karena disibukkan dengan bagaimana bisa bertahan hidup di jakarta karena biaya kuliah sendiri, so agak stress mikirin hidup di jakarta, gali lubang tutup lubang, so pada akhirnya kerja juga sebagai wartawan di Tabloid Ibadah, alhadulillah ada pemasukan dari jerih payah sendiri,
ketika mengerjakan tesis di awal tahun 2011, aku merasakan nikmatnya belajar dan mencari ilmu, meski ada ujian waktu garap tesis, namun bisa di atasi dengan baik,,,pemikiranku berubah tentang konsep pendidikan dan mencari ilmu, meski lemah terhadap ilmu hitungan, namun ternyata ilmu hitungan atau matematika itu penting, karena tokoh-tokoh muslim pada zaman dahulu banyak yang menguasai ilmu matematika, contoh Al Khwrizmi dikenal dengan bapak Al Jabar, Ahli matematika itu bernama Abu Nasr Mansur ibnu Ali ibnu Iraq atau akrab disapa Abu Nasr Mansur (960 M - 1036 M).  Bill Scheppler dalam karyanya bertajuk al-Biruni: Master Astronomer and Muslim Scholar of the Eleventh Century, mengungkapkan, bahwa  Abu Nasr Mansur merupakan seorang ahli matematika Muslim dari Persia. Ibnu Sina dan asih banyak tokoh lainnya.
Tokoh muslim pada zaman kejayaannya banyak yang menguasai ilmu itu bukan satu bidang namun berbagai bidang, sehingga tidak masalah kalau ada orang yang gelarnya banyak dengan berbagai keahlian ilmu yang berbeda. Hidup adalah belajar, membaca sesuai dengan perintah Allah kepada Nabi Muhammad ketika pertaa kali menerima wahyu, Iqra, Iqra, Iqra dan tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat, dan carilah Ilmu sampai ke negeri China adalah salah satu bukti bahwa Islam sangat mementingkan pendidikan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tentunya mencari ilmu disertai keikhlasan dan kesabaran maka proses belajar akan mudah dijalani.
Mencari ilmu bagaikan kita hidup dunia setelah kita punya sepeda, maka ingin punya sepeda motor, kemudian ingin punya mobil, dan seterusnya,, sama ketika kita mencari ilmu, ketika mengetahui yang satu kita adalah orang bodoh sedunia sehingga keinginan mencari ilmu itu lebih tinggi sampai sejauhmana kita mengetahui Tuhan akan diri kita,,,